Article

The Synergy
to Move Forward
Release
May 11, 2017

ABM Investama Genjot Produksi 48 Persen Tahun Ini

Click to Enlarge

CNN Indonesia | Jakarta - PT ABM Investama Tbk [ABMM) menargetkan produksi batu bara mencapai 9,5 juta ton sepanjang tahun ini. Angka itu naik sekitar 48 persen dari total produksi batu bara 6,4 juta ton pada tahun lalu.

Direktur Keuangan ABM Investama Adrian Erlangga menyatakan, target tersebut didukung oleh meningkatnya permintaan batu bara dari Tiongkok, India, dan dalam negeri sendiri.

"Mengenai komposisi sebagian besar China, India, lalu sisanya domestik," ujar Adrian usai Rapat Umum Pemegang SahamTahunan (RUPST) di Jakarta Selatan, Rabu [10/5}.

Selain alasan meningkatnya permintaan batu bara, sikap optimistis perusahaan dalam menaikkan jumlah produksi juga karena penguatan harga komoditas batu bara yang masih terbilang cukup baik. Namun, perusahaan tidakagresif dalam mempreciiksi harga batu bara hingga akhir tahun ini.

"Bagi kami cukup US$75 per metrikton hingga US$80 per metrikton," kata Adrian.

Saat ini, perusahaan memiliki tiga tambang batu bara yang berada di Aceh dan Kalimantan Selatan. Menurut Adrian, manajemen berharap tambang batu bara di Aceh dapat memproduksi sekitar tiga juta ton hingga 3,5 juta ton. Sementara, dari Kalimantan Selatan sebanyak 5,9 juta ton.

Dengan peningkatan produksi tersebut, tutur Adrian, ABM Investama berharap penjualan dapat meningkat sekitar empat sampai lima kali lipat pada tahun ini dari pendapatan yang diraih pada kuartal I 2017.

"Pendapatan pada kuartal I kami (mancapai) US$170 juta," katanya.

Sementara itu, ABM Investama sendiri telah menjaminkan 50 persen asetnya untuk pembayaran utang kembali (refinancing). Adrian menyebut, perusahaan berharap dapat melakukan refinancing sebesar US$350 juta.

"Refinancing diharapkan menurunkan utang dengan angka yang cukup banyak, kuartal pertama menurunkan utang US$30 juta," ujarnya.

Untuk diketahui, ABM Investama berhasil membukukan laba bersih sebesar US$12,6 juta pada tahun 2016. Pencapaian itu berbanding terbalik dengan tahun 2015 yang merugi US$38,1 juta. Tak hanya itu, perusahaan itu juga berhasil melakukan refinancing utang hingga US$110 juta. (res/res)

Penulis : Dinda Audriene

SUMBER